Internet Indonesia Kelabakan Hadapi Lonjakan Pengguna


http://inet.detik..com/read/2012/10/...akan-
pengguna?
Jakarta - Indonesia baru saja mendapat rapor
kurang menggembirakan dari Akamai terkait
kecepatan internet. Padahal di sisi lain,
pengguna internet Tanah Air makin banyak.
Apakah ini lantaran infrastruktur kita kelabakan
menghadapi lonjakan pengguna tersebut?
Seperti diketahui, menurut data terbaru Akamai
untuk Q2 2012, rata-rata kecepatan di Tanah Air
dilaporkan cuma sebatas 770 Kbps. Padahal
dalam catatan detikINET, rata-rata kecepatan
internet di Indonesia mampu lebih baik bila
dirujuk pada laporan Akamai pada Q4 2011
yakni sebesar 772 Kbps.
Tentu saja hal ini mengundang tanda tanya.
Bagaimana bisa? Terlebih dalam beberapa
waktu terakhir, infrastruktur TIK di Indonesia
harusnya tengah sedikit demi sedikit dibangun.
Menurut praktisi TI Onno W. Purbo, data yang
dimunculkan oleh Akamai setidaknya
mengambarkan beberapa perubahan di jagat
internet Tanah Air.
Pertama adalah jumlah pengguna internet yang
bertambah banyak. Ini bisa dibilang sebagai nilai
positif. Namun di sisi lain, hal itu menyiratkan
bahwa dari sisi infrastruktur kurang dapat
mampu mengejar lonjakan pengguna.
"Lainnya adalah terlalu mengandalkan seluler.
Akibatnya walaupun di iklan (mengklaim
kecepatan sampai) 7,5 Mbps. Tapi user
efektifnya cuma dapat 750 Kbps," sesal Onno,
yang diutarakan dalam sebuah diskusi online.
Ia menambahkan, saat ini layanan internet dari
seluler sepertinya sudah tidak bisa memenuhi
kebutuhan, atau bisa juga dibilang terlalu mahal.
"Sehingga kudu (harus-red.) diizinkan alternatif
akses yang broadband plus murah. Misalnya
WiFi, mesh, dan lainnya," lanjut mantan dosen
ITB tersebut.
Senada dengan Onno, penggiat Internet Sehat
dari ICT Watch Donny BU menambahkan,
dengan kondisi tersebut kemungkinan besar
sama saja artinya supply tidak mampu melayani
demand.
"Kalau sudah begini, (pertanyaan yang kemudian
muncul adalah) apakah ini tanggung jawab
policy maker (pemerintah) atau industri (private
sector)?" lanjut Donny.
Menanggapi pertanyaan tersebut, menurut
Onno, logikanya adalah pemerintah harus
menjalankan tugasnya sebagai pembuat
kebijakan, termasuk untuk urusan internet ini.
"Jika perlu, misalnya memberi insentif untuk
operator yang berinvestasi. Dan jika operator tak
mau berinvestasi, beri kesempatan rakyat untuk
membuat sendiri," tegasnya.
"Lah, sekarang sudah ada teknologi 1 Gbps
untuk jarak 15 km di frekuensi 24 GHz. Kok
malah pusing soal LTE (Long Term Evolution),"
Onno menandaskan.

Published with Blogger-droid v2.0.9

0 komentar:

Poskan Komentar