Wireless Internet: bagaimana cara kerjanya



Pernahkah anda berfikir bagaimana cara kerja Wireless Internet?. Bagaimana kalau saya balik tanya, ” wireless internet yang mana?”. WiFi, radio, satelit atau selluler ? jangan bingung dan jangan bengong...ntar kesambet. Anda akan mendapatkan penjelasannya disini .



Akses wireless internet yang sesungguhnya digambarkan sebagai jenis yang didasarkan pada frekuensi radio. Anda mungkin pernah melihat rumah-rumah dengan kotak putih kecil berbentuk persegi panjang (canopy) terpasang di dekat bagian atap rumah mereka. Merekalah orang-orang dengan akses Internet nirkabel.


Mari kita mulai bicara dari Wireless Internet Service Provider (WISP) yang terhubung ke komputer Anda. Dari ISP anda, sebuah sinyal akan dipancarkan ke sebuah menara atau bahkan melewati beberapa menara sebelum sampai ke rumah anda.

Pada dasarnya layanan wireless Internet adalah sinyal yang dipancarkan dan sinyal yang diterima harus berada pada posisi yang benar-benar terlihat (tidak terhalang oleh suatu apapun). Ini berarti, misalnya, anda iseng aja naik ke atas atap dan berdiri didepan receiver anda, maka anda akan dapat melihat sebuah menara pemancar. Namun saya tidak menyarankan hal tersebut karena sinyal yang dipancarkan tersebut dapat berakibat kurang baik bagi tubuh anda. Selain resiko terjatuh tentunya.

setelah sinyal yang dipancarkan dari ISP tadi dapat ditangkap oleh receiver anda, maka sinyal tersebut akan melalui media yang berbeda yaitu dari udara kemudian ke kabel jaringan ( RJ-45 ) menuju ke modem (modulator/demodulator). Setelah sinyal tersebut termodulasi, akan diubah ke bentuk informasi yang hanya dapat diterima oleh jaringan wireless. Sedangkan saat di-demodulasi, akan diubah menjadi sinyal yang dapat diterima komputer. Berikut gambarannya.

Sebagaimana saya terangkan di atas, semua itu dilakukan dengan menggunakan frekuensi radio. Anda punya cordless telephone? Mungkin akan ada nomor yang di baca seperti 900 MHz, 2,4 GHz, 5,2 GHz atau 5,7 GHz.? Ini adalah frekuensi radio yang dapat dioperasikan pada cordless telepon. Begitu pula dengan wireless Internet!

WISP menggunakan frekuensi ini dengan alasan frekuensi tersebut adalah frekuensi publik sehingga tidak perlu mengajukan ijin (lisensi) untuk menggunakannya. Mengajukan sebuah lisensi tentu saja akan berujung ke masalah uang dan ada beberapa pembatasan (aturan), jadi bila harus dibatasi dan keluar duit, kenapa ga pakai yang gratis aja?

Mungkin masalahnya ada pada keamanan, frekuensi publik bisa dikatakan gampang disadap karena sifatnya yang umum dan semua orang bisa menggunakannya. Namun jangan kuatir, karena frekuensi yang dipakai biasanya cukup aman. Hal ini karena pengunaan enkripsi yang ditambahkan pada sinyal yang dipancarkan. Tanpa adanya kode deskripsinya maka akan sangat sulit bagi seseorang untuk dapat menguraikan sinyal yang dipancarkan DES enkripsi adalah metode yang umum digunakan.
Sekarang mari kita bahas gelombang-gelombang frekuensi diatas. Mungkin anda bertanya-tanya kenapa harus ada sekian banyak gelombang (900 MHz, 2,4 GHz, 5,2 GHz atau 5,7 GHz ) ?

Begini, anggap saja seperti jalan raya. Bila jalan yang ada hanya satu, maka bisa anda bayangkan betapa padatnya jalur yang dipergunakan. Itulah sebabnya sehingga ada banyak gelombang frekuensi.



Pemakaian gelombang frekuensi yang bermacam-macam tersebut juga membawa beberapa konsekuensi. Semakin kecil frekuensinya maka akan semakin luas jangkauannya namun semakin buruk kualitasnya. Sebagai pembanding, bila anda menggunakan frekuensi 900 MHz, maka jarak jangkaunya akan mencapai 40 mil (± 64 km), namun bila anda menggunakan 2.4GHz maka jangkauan dari pemancar ke penerima hanya terbatas pada sekitar 5 mil (8 km). Jauh sekali bedanya. Jadi sekarang terserah anda, pilih jarak atau kualitas ?

Tentang Miapah dan Hal-hal Ciyus Lainnya

Sekalipun tidak ada maksud serius dan kesungguhan di balik kata “ciyus”, “cungguh” dan “miapah” yang sedang populer saat ini, tidak ada salahnya kita mencoba membahas mereka dengan serius. Tapi sebelumnya, saya akan memberi ringkasan terlebih dahulu terutama bagi mereka yang tidak
mengetahui tren bahasa gaul terkini. Belakangan ini, terutama di media sosial, sedang marak penggunaan/pengucapan kata yang berupaya terdengar imut dan lucu — seperti diucapkan balita yang masih cadel. Sebagai contoh, “sungguh” diucapkan/dituliskan jadi “cungguh”. “Serius” jadi “ciyus”.
Dan “demi apa” menjadi “miapah”. Agak sulit untuk merumuskan aturan dari gejala bahasa ini (yang kerap dikategorikan ke dalam bahasa alay edisi terbaru). Tidak ada prinsip mutlak, meski ada pola yang terlacak. Layaknya balita cadel, huruf S akan dilafalkan menjadi C (“sungguh jadi “cungguh”). Lalu R akan diganti
jadi L atau Y (“rahasia” menjadi “lahacia”). Lalu ada huruf-huruf yang direduksi. Terima kasih? Maacih. Masak sih? Macacih. Enelan. Tetapi, kapan substitusi dan reduksi tersebut berlaku, sepenuhnya diserahkan kepada insting pengguna. Gejala bahasa alay terbaru ini agak berbeda dengan bahasa alay edisi sebelumnya yang cenderung merepotkan pembacanya (bahkan pengguna sendiri). Kalau dulu, bahasa alay lebih menekankan pada permainan huruf-angka-huruf-angka serta penggunaan huruf yang jarang digunakan. (Sebagai contoh, “sayang” menjadi “Ch4y4Nk” dan “kamu mau apa” menjadi “Qm mW 4pH”.) Pola bahasa alay versi lama juga hanya memungkinkan untuk diterapkan pada tataran tulisan. Pada tataran lisan, ia kehilangan pesona dan praktiknya. Ini berbeda dengan pola bahasa alayisme (dan cadelisme) dkk yang, walau beredar di media sosial yang didominasi tulisan, justru menjadi berarti ketika diejawantahkan ke
tataran lisan. Kesan imut dan lucu — ya, saya tahu, tidak semua menganggap ini lucu — bisa terwujud karena asosiasi kita terhadap anak kecil polos-tembam yang cadel dan belum fasih bicara. Ada lagi satu perbedaan yang paling kentara dari kedua gejala bahasa tersebut. Jika yang terdahulu banyak digunakan untuk sungguh- sungguh mengatakan apa yang ia sampaikan, yang terbaru banyak digunakan untuk sungguh-
sungguh bercanda. “Ciyus”, misalnya, membuat “serius” kehilangan kredibilitas. Pada akhirnya, “ciyus” tidak akan dipakai untuk menggantikan “serius” dalam maksud sebenarnya. Lalu bagaimana kita harus
menyikapinya? Setiap kata, seusil apa pun asal-usulnya, mempunyai hak untuk hidup. Namun, perjuangan setiap kata untuk dapat hidup lama bukan perkara mudah. Samsudin Berlian, seorang pemerhati makna kata, pernah menulis dalam rubrik bahasa Kompas (8/11/03) bahwa “dalam bahasa yang hidup, kata-kata lahir dan mati seiring dengan perkembangan dunia pemakainya.” Jika betul begitu, barangkali kita tidak perlu
melempar penemu kata “ciyus” dkk dengan sendal jepit. Apabila kata-kata tersebut sudah membosankan dan telah kehilangan kelucuannya, toh mereka akan mati dengan sendirinya karena tidak digunakan lagi. Ciyus? Miapah? Cungguh!
Dari yahoo.com

Internet Indonesia Kelabakan Hadapi Lonjakan Pengguna


http://inet.detik..com/read/2012/10/...akan-
pengguna?
Jakarta - Indonesia baru saja mendapat rapor
kurang menggembirakan dari Akamai terkait
kecepatan internet. Padahal di sisi lain,
pengguna internet Tanah Air makin banyak.
Apakah ini lantaran infrastruktur kita kelabakan
menghadapi lonjakan pengguna tersebut?
Seperti diketahui, menurut data terbaru Akamai
untuk Q2 2012, rata-rata kecepatan di Tanah Air
dilaporkan cuma sebatas 770 Kbps. Padahal
dalam catatan detikINET, rata-rata kecepatan
internet di Indonesia mampu lebih baik bila
dirujuk pada laporan Akamai pada Q4 2011
yakni sebesar 772 Kbps.
Tentu saja hal ini mengundang tanda tanya.
Bagaimana bisa? Terlebih dalam beberapa
waktu terakhir, infrastruktur TIK di Indonesia
harusnya tengah sedikit demi sedikit dibangun.
Menurut praktisi TI Onno W. Purbo, data yang
dimunculkan oleh Akamai setidaknya
mengambarkan beberapa perubahan di jagat
internet Tanah Air.
Pertama adalah jumlah pengguna internet yang
bertambah banyak. Ini bisa dibilang sebagai nilai
positif. Namun di sisi lain, hal itu menyiratkan
bahwa dari sisi infrastruktur kurang dapat
mampu mengejar lonjakan pengguna.
"Lainnya adalah terlalu mengandalkan seluler.
Akibatnya walaupun di iklan (mengklaim
kecepatan sampai) 7,5 Mbps. Tapi user
efektifnya cuma dapat 750 Kbps," sesal Onno,
yang diutarakan dalam sebuah diskusi online.
Ia menambahkan, saat ini layanan internet dari
seluler sepertinya sudah tidak bisa memenuhi
kebutuhan, atau bisa juga dibilang terlalu mahal.
"Sehingga kudu (harus-red.) diizinkan alternatif
akses yang broadband plus murah. Misalnya
WiFi, mesh, dan lainnya," lanjut mantan dosen
ITB tersebut.
Senada dengan Onno, penggiat Internet Sehat
dari ICT Watch Donny BU menambahkan,
dengan kondisi tersebut kemungkinan besar
sama saja artinya supply tidak mampu melayani
demand.
"Kalau sudah begini, (pertanyaan yang kemudian
muncul adalah) apakah ini tanggung jawab
policy maker (pemerintah) atau industri (private
sector)?" lanjut Donny.
Menanggapi pertanyaan tersebut, menurut
Onno, logikanya adalah pemerintah harus
menjalankan tugasnya sebagai pembuat
kebijakan, termasuk untuk urusan internet ini.
"Jika perlu, misalnya memberi insentif untuk
operator yang berinvestasi. Dan jika operator tak
mau berinvestasi, beri kesempatan rakyat untuk
membuat sendiri," tegasnya.
"Lah, sekarang sudah ada teknologi 1 Gbps
untuk jarak 15 km di frekuensi 24 GHz. Kok
malah pusing soal LTE (Long Term Evolution),"
Onno menandaskan.

Published with Blogger-droid v2.0.9

numpang nampang

Update kali ini saya mau mencoba posting gambar menggunakan aplikasi blogger-droid..coba yah ;)

Published with Blogger-droid v2.0.9

Bloggerdroid, aplikasi android untk update blog

Alhamdulillah,perkembangan TIK sampai saat ini sangat terasa manfaatnya buat kita. Salah satunya untuk mengupdate website cukup dengan hp android.yup, saya sedang coba menggunakan aplikasi bloggerdroid. Sebuah aplikasi android yang fungsinya untuk mengupdate blog di blogger atau blogspot milik google..aplikasi ini tersedia gratis di playstore atau android market.silahkan saja diunduh disana.ok, sekarang saya mau posting dulu ya..

Published with Blogger-droid v2.0.9

Form Komentar siswa kelas 7E dan 7F


Revolusi baru untuk Lembaga Pendidikan Indonesia


Revolusi baru bagi lembaga pendidikan di Indonesia sudah hadir, yaitu GOOGLE APPS For Education Sebuah Revolusi yang dapat membawa sebuah lembaga pendidikan naik beberapa Level dibandingkan lembaga sejenis di Indonesia...
Revolusi baru bagi lembaga pendidikan di Indonesia sudah hadir, yaitu
GOOGLE APPS For Education
Sebuah Revolusi yang dapat membawa sebuah lembaga pendidikan naik beberapa Level dibandingkan lembaga sejenis di Indonesia maupun di Dunia, Google Apps (G-Apps) 4 Education menjadikan lembaga pendidikan di Indonesia setara dengan Lembaga Pendidikan skala Internasional dari segi manajemen dan penggunaan Fitur Online baik dalam Manajemen Sekolah maupun sistem belajar mengajar…

Contohnya:
Apa saja Revolusi yang bisa dihadirkan G-Apps 4 Education bagi Lembaga Pendidikan di Indonesia:
1. Setiap Siswa, Guru dan Pengurus sekolah memiliki Email dengan Domain lembaga pendidikan yang bersangkutan ( namasaya@sekolahsaya.sch.id ), lengkap dengan berbagai fitur Gmail seperti:::
- Fasilitas Chat ( G-Talk )
- Inbox dalam bentuk Conversation ( percakapan )
- Kuota yang besar 25GB
2. Google Calendar untuk mengatur jadwal kegiatan sekolah dan berkolaborasi antar jadwal seperti dg Jadwal Lab, Penggunaan Ruangan Aula, Rapat pertemuan dg kepala sekolah, penggunaan lapangan, dsb)
baik antara guru dengan sekolah, antar guru, antara siswa dg guru dan antara siswa dg sekolah
- Google Calender di lengkapi dengan pengingat Via SMS untuk mengingatkan jadwal kegiatan
3. Google Docs untuk kolaborasi dokumen dalam bentuk word, Excel, Powerpoint antar siswa maupu antara guru dengan siswa… juga sebagai online Storage yang bisa di akses di mana saja dengan kuota 10GB untuk berbagai jenis file termasuk video…
Google Docs juga menyediakan Form yang memudahkan untuk mengerjakan ujian atau ulangan, dimana siswa langsung mengerjakan scara online yang hasilnya terintegrasi dalam bentuk Excell (spreadsheet)
4. Google site untuk Website Internal kelas yang bisa memuat file-file pengajaran, jadwal KBM Kelas, agenda kelas, jadwal piket, absensi siswa, daftar nilai dan sebagainya…
dan banyak lagi aplikasi dalam Google Apps 4 Education yang bisa disesuaikan untuk sekolah anda…